Terinspirasi oleh film Hot Shot: part deux, saya meniatkan diri untuk melanjutkan post saya sebelumnya, yang sudah kepalang tanggung, dan memang harus dilanjutkan karena saya udah nulis to be continued di footer-nya, huks.. Hari berikutnya adalah bepergian keliling dengan beberapa kolega babe, dan anak-anak mereka which are my childhood friends.. Actually we didn’t communicate much, so it’s kinda reunion for me.. Btw kita juga lewat jembatan di bilangan Tabanan yang katanya sih paling tinggi di Asia Tenggara, katanya..

Under the Bridge

At Night
Kegiatan berkeliling belum berakhir.. Hari selanjutnya adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Lei karena setelah sekian lama pulang, belon sekalipun dia jalan-jalan.. So we took her for an adventurous ride, destination: Kadewatan, Ubud.. Kadewatan adalah sebuah desa dimana Nasi Ayam Ibu Mangku yang tersohor berasal, we aimed directly to the source.. Masalahnya adalah banyak anak-anak yang pengen ikutan, jadilah kita bertiga berpusing-pusing anter-jemput beberapa teman dolo.. But as we didn’t know, rumah mereka itu ternyata jaauuuhh banget, well ga jauh-jauh amat sih tapi macetnya itu lohh.. Setelah mengangkut mereka semua, bergegaslah mobil Panther DK 1407 GE menuju daerah Ubud, menembus hutan, melewati Bebek Bengil, Antonio Blanco, dan tadaaaa..sampailah kita di target utama hari ini.. Hari ini kembali saya makan gratis, karena derma dari Bpk. Pilot (Captain) Hendrojoyo.. (Photos stolen from Lei’s FB)


Sampai!
Kenyang makan dan bermain truth or dare, kita lalu memulangkan satu per satu warga negara yang menumpang tadi.. Perjalanan cukup heboh karena beberapa foto yang narsis dan miris, hahaha.. Ditmbah dengan dikiri-kanan jalan yang penuh dengan baligo Caleg yang bertaburan, diantaranya yang paling menarik perhatian adalah:

Natural vs Metal
Selesai mengantar orang-orang ke habitatnya, tinggalah kita bertiga, gw, Lei, n Jawa.. Kita sepakat untuk meneruskan perjalanan around the city.. Tujuan utama: Gajah Mada Town Festival.. Walopun ga terlalu meriah, dan hanya berisi jajanan, makanan, dan oleh-oleh khas bali, tapi festival ini cukup untuk memacetkan arus lalulintas ibukota..

Berasa turis
Balik dari festival, mata gw tertuju pada kantor walikota Denpasar yang lebih terlihat seperti keraton kerajaan, padahal gw 3 tahun ber-smp di depannya, hahaha.. Karena hasrat berfoto yang memuncak, kita memberanikan diri masuk, dan berkata ke satpam disono: “Kami dari Jogja, Jakarta, n Bandung, cuma ingin berfoto pak..” dengan logat dan dialek yang dibuat-buat, hahaha.. Di depan kantor, kami seperti mengalami retardasi otak tiba-tiba sehingga terciptalah bentuk-bentuk aneh sbb:


Bertarung dolo kk..
Capek berfoto gj, kita meneruskan perjalanan ke daerah kuliner ibukota, Jl Teuku Umar untuk cari makan.. Atas anjuran si Jawa, kita menuju sebuah resto Jepun yang bertema merah, dan memesan beberapa onggok sushi.. Kembali wabah retardasi otak melanda sehingga terjadilah beberapa momen yang diabadikan dalam gambar-gambar berikut:

Us in Red
Ya begitulah hari itu sungguh sangat melelahkan.. Almost 70% of our time, spent on the road, but that’s not that bad.. We created so many laughters there, really-really big and old-time laughter..
(to be continued)
Berbagi